KELIMPAHAN JENIS LAMUN DAN GASTROPODA DI PERAIRAN PULAU MANSINAM DISTRIK MANOKWARI TIMUR KABUPATEN MANOKWARI PROVINSI PAPUA BARAT

Usior, Santiria Beatrix (2013) KELIMPAHAN JENIS LAMUN DAN GASTROPODA DI PERAIRAN PULAU MANSINAM DISTRIK MANOKWARI TIMUR KABUPATEN MANOKWARI PROVINSI PAPUA BARAT. Masters thesis, Universitas Negeri Papua.

[img]
Preview
Text
Usior,Santiria.B_Kelimpahan Jenis Lamun & Gastropoda Di Perairan Pulau Mansinam.pdf

Download (1610Kb) | Preview

Abstract

Santiria Beatrix Usior (NIM 200730047). Kelimpahan JenisLamun dan Gastropoda Di Perairan Pulau Mansinam Distrik Manokwari Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. Dibimbing oleh Selfanie Talakua S.Pi, M.Sidan Yori Turu Toja S.Pi, M.Si Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan Keanekaragaman lamun dan mengetahui kelimpahan gastropoda yang berasosiasi pada lamun di perairan Pulau Mansinam, penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan yaitu dari bulan September sampai Desember 2012. Stasiun pengamatan terdiri dari 3 (tiga) Stasiun yaitu: Stasiun I (depan Pulau Mansinam), Stasiun II pertengahan Pulau Mansinam ( dekat air tawar), Stasiun III di Tanjung Mangewa ( belakang Pulau Mansinan, penelitian ini dilakukan dengan metode line transek. Pada masing-masing Stasiun terdapat tiga line transek dengan plot sebanyak 30 plot. Kondisi fisik–kimia perairan di ketiga Stasiun penelitian yaitu suhu berkisar antara 31-33 ˚C. Suhu ketiga stasiun terlihat hampir sama dan masih tergolong suhu normal, mengingat pada waktu pengambilan kondisi cuaca cerah. Salinita 31-33 ‰, Tinggi rendahnya nilai salinitas di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan masuknya aliran sungai ( Notji, 1987). pH 7,69-7,87 Dilihat pada nilai pH baku mutu air KEPMEN Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 bahwa nilai pH berkisar antara 7- 8,5. Kisaran nilai pH pada ketiga stasiun ini masih tergolong baik untuk pertumbuhan lamun dan gastropoda. dan DO 7,13-7,63 mg/L kisaran nilai oksigen terlarut ini sesuai dengan nilai oksigen terlarut pada baku mutu air untuk biota (KEPMEN Lingkungan Hidup No.51 Tahun 2004) yaitu ˃ 5 mg/L sehingga nilai kandungan oksigen terlarut (DO) pada ketiga lokasi ini masih tergolong baik bagi kehidupan organisme. Lamun yang ditemukan pada lokasi penelitian terdiri dari 7 jenis yang berasal dari 6 genus dan termasuk dalam 2 famili yaitu Cymodoceae dan Hydrocharitaceae. Nilai kerapatan lamun pada ketiga stasiun penelitian yang tertinggi yaitu pada stasiun II 18,48 (Tegakan/m²), Tingginya kerapatan jenis lamun pada stasiun II sangat terkait dengan tingginya jumlah jenis yang ditemukan. Selain itu tingginya kerapatan dan jumlah jenis lamun pada stasiun ini kemungkinan sangat terkait dengan karakteristik habitat seperti kedalaman dan jenis substrat yang sangat mendukung untuk pertumbuhan dan keberadaan lamun.Keanekaragaman jenis tertinggi yaitu pada stasiun III 1,598, sedangkan nilai indeks keanekaragaman yang paling rendah yaitu pada stasiun I dengan nilai rata-rata yaitu 0.966. Dapat dikatakan keanekaragaman jenis pada stasiun II dan III dalam keadan sedang sedangkan pada stasiun I keanekaragaman jenisnya kurang, dimana dari keriteria indeks keanekaragaman jenis bila H’<1 maka keanekaragaman jenisnya kurang, jika 1 < H’ < 3 Maka keanekaragaman jenis sedang bila H’> 3 maka keanekaragaman jenisnya tinggi.Keseragaman jenis lamun tertinggi pada stasiun III yaitu 0,892, Tsedangkan nilai terendah terdapat pada stasiun I dimana memiliki nilai 0.600.Dari hasil perhitungan maka dapat dikatakan keseragaman jenis lamun dalam keadaan komunitas rendah. Hal ini dapat dilihat dari kriteria yang ada, dimana nilai j berkisar 0-1, bila j mendekati 0 maka keseragaman jenis dalam komunitas rendah, yang mencerminkan komunitas dalam kondisi tidak stabil. Apabila j mendekati 1 maka dapat dikatakan keseragaman tinggi atau perbedaanya tidak jauh berbeda.Dominansi jenis lamun yaitu pada stasiun I dengan nilai 0,444 dan terendah pada stasiun III dengan nilai 0,218, Jika dilihat nilai dominansi yang diperoleh secara keseluruhan pada ketiga stasiun, menunjukan bahwa nilai dominansinya mendekati 0. Bila dikaitkan dengan kriteria penilaian dominansi jenis yang berkisar antara 0-1 dimana bila nilai C mendekati 0 maka tidak terdapat spesies yang mendominansi, jika c mendekati 1, berarti terdapat spesies yang mendominansi spesies lainnya. Hal ini berarti bahwa nilai dominansi pada ketiga stasiun tersebut menunjukan tidak terdapat spesies yang mendominansi. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya hubungan lamun dan gastropoda karena lamun berperan penting bagi berbagai organisme yang berasosiasi dengannya, Gastropoda yangditemukan yaitu terdiri dari 12 spesies yang termasuk dalam 8 famili dan 2 ordo yaitu Mesogastropoda dan Neurogastropoda. Secara keseluruhan kelimpahan gastropoda tertinggi terdapat pada Stasiun III dengan nilai 0,002 dan terendah pada Stasiun I dengan nilai 0,011.Hal ini disebabkan juga oleh kondisi lamun di ketiga stasiun yang baru mulai tumbuh karena sebelumnya terjadi musim gelombang yang mengakibatkan daun lamun tersebut patah/rusak sehingga ketersediaan makanan pada lamun itu bagi gastropoda sangat kurang. Karena Habitat lamun sangat menyokong kelimpahan dan kekayaan hewan yang berasosiasi dengan memberikan struktur habitat secara fisik (Orth et al. 1984; Hemming & Duarte 2000 dalam Leatemia, 2010) dan sebagian besar hewan avertebrata dengan tipe memakan herbivore jarang mengkonsumsi lamun, dan sebagai pengganti, kelompok organisme tersebut memanfaatkan alga epifit sebagai sumber makan utama ( Kikuchi & Peres 1977; Klumpp et al. 1989; Brawley 1992, Jernakoff et al. 1996 in Narkoba 2005 dalam Leatemia 2010).

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: S Agriculture > SH Aquaculture. Fisheries. Angling
Divisions: Fakultas Peternakan, Perikanan dan Ilmu Kelautan > Jurusan Manajemen Perairan
Depositing User: Mr Manuel Paulus Rumayomi
Date Deposited: 18 Mar 2013 05:59
Last Modified: 18 Mar 2013 05:59
URI: http://eprints.unipa.ac.id/id/eprint/595

Actions (login required)

View Item View Item